Jumat, 21 September 2012

Melancong ke Bumi Para Wali Tareem Hadramaut Yaman



Oleh : Umm Aiman

Awal ketertarikanku untuk melanjutkan belajar ke Tareem ini adalah ketika aku belajar disebuah pesantren di Bangil Pasuruan, beberapa seniorku yang pulang dari sana memberi kesan mendalam, aku yang waktu itu masih berumur 15 tahun sangat mengidolakan kakak-kakak yang lebih dahulu berangkat, jiwa dakwahnya yang menyentuh hati dan amaliyah kesehariannya menjadi salah satu motivasi untuk belajar disana, di samping figure Habib Umar bin Hafizd seorang da’I kondang dari hadramaut membulatkan tekadku untuk segera belajar kesana setelah lulus dari madrasah Aliyah.
Akhirnya pada tahun 2000 tepat usiaku menginjak 16 tahun aku berangkat bersama rombongan  yang mempunyai tujuan yang sama menuju Tareem sebuah desa kecil di propensi Hadramaut.
 Pagi hari ketika kami keluar dari bandara Internasional di San’a, menuju Bis untuk melanjutkan perjalanan ke Tareem angin dingin menerpa tubuh kami, sangat dingin karena waktu itu sedang musim dingin sehingga baju  yang kami pakai terasa basah, disana musim dingin akan terasa sangat dingin, dan musim panas begitu juga, jam 6 pagi kami berangkat dan sampai di Tareem sekitar jam 7 malam, hampir setengah hari perjalanan, karena bandara Seiwun waktu itu belum dibangun.
Ketika memasuki Tareem, ada pemandangan baru yang tidak lazim kami lihat  di Indonesia yaitu para wanita yang keluar rumah semuanya memakai penutup wajah atau yang mereka sebut khimar, dan pakaian yang dikenakan juga berwarna hitam, sehingga siapapun pelancong yang datang kesana harus memakainya untuk beradaptasi, dan alhamdulillah kami sebelumnya sudah mempersiapkannya.
Setiap kali kami berpapasan dengan penduduk yang sejatinya tidak mengenal kami mereka akan unjuk salam terlebih dahulu, kemudian sambil berlalu terdengar tasbih, tahmid yang mereka baca perlahan, ya,hampir semua penduduk Tareem dari awamnya sampai ulamanya gemar berzdikir, dan apabila kita bertandang ke rumah mereka sambutan hangat bak keluarga jauh yang lama tak berjumpa, akan sangat terasa.
Yang sangat berkesan adalah ketika kami tinggal di sebuah dar yang biasa kita sebut pesantren, Dar al Zahra’ khusus untuk banat ( putri) dan Dar al Musthafa untuk awlad ( putra), disana kita dilatih untuk disiplin dan pandai membagi waktu, jam 3.30 pagi, kami sudah bangun untuk melaksanakan sholat tahajud, disusul dengan pembacaan wirid hingga menjelang azdan subuh, kemudian setelah sholat shubuh membaca wirid lagi hingga isyraq ( matahari terbit), walaupun aku di pondok sebelumnya sudah terbiasa bangun malam namun awalnya terasa berat dengan rutinitas ini, hingga pernah suatu ketika mata sudah tidak bisa diajak kompromi aku rela ngumpet di belakang pintu kamar mandi  sekedar untuk tidur, ku pikir dari pada seperti temanku yang dahinya hampir terantuk ke lantai gara-gara nahan ngantuk. disana kita juga banyak mengenal teman-teman dari manca Negara, seperti Thailand, singapore, Malaysia, Amerika, Britania, Sweden, Australia, Oman dll. Kami dilatih untuk punya gairah dakwah, dengan kita berdakwah berarti kita menjadi penyambung lisan Rasulullah saw, dan itu adalah salah satu jalan cepat membawa kita dekat dengan Allah SWT, begitulah nasehat yang kala itu mampu memotivasi kita untuk tetap semangat, dan lagi di Tareem tidak akan terdengar nyanyian-nyanyian pop, rock, dan sebagainya, bagi mereka mendengarkan lagu-lagu ini adalah sebuah aib sehingga yang selalu terdengar adalah qasidah dan nasyid yang memuji Allah dan RasulNya.
Model  rumah penduduk Tareem hampir sama, seperti apartemen, ketika mereka membangun rumah, bagian atas rumah akan dibangun dengan model yang sama untuk anak lakinya ketika dia menikah, dan dibangun lagi diatasnya jika punya putra yang lain, sehingga satu bangunan itu bisa di isi tiga sampai empat keluarga.
Gadis-gadis Tareem sangatlah pemalu, beberapa tahun kami bersama di Dar al Zahra’ sekalipun tidak pernah melihat mereka mengurai rambutnya, apalagi CDnya, ntah dimana mereka menjemurnya ketika mencuci, ketika dengan tidak sengaja melihat CD salah satu dari kami, dengan segera dia menutup matanya seraya berucap astaghfirullah….hem, kenapa dia yang malu ya…..
Di sela-sela belajar, kami akan diajak untuk ziarah ke makam para auliya’ dan ulama’ yang kitab-kitabnya sering kami telaah, seperti Imam Abdullah al Haddad, al Fagih al Mugaddam dll, makam para pemuka Ba’alawi ini terdapat di Zanbal, bagi kami ziarah kubur ini hanya sebatas mendoakan dan kemudian berkah dari doa itu akan kembali kepada orang yang mendoakan, seorang kekasih akan tetap menjadi kekasih baik hidup ataupun mati, kami berharap Allah akan mencintai kami sebab kami mencintai kekasih-kekasihNya,  dan biasanya guru kami akan membacakan biografi dan riwayat hidup dari syekh yang kami ziarahi untuk diambil teladan.
Untuk  kami banat dar zahra’, disediakan fasilitas kendaraan berupa bis, mobil, dll, dan semua fasilitas yang berada dalam pondok seperti air, listrik, isi dapur, gratis.
Pada bulan sya’ban penduduk Tareem akan berbondong-bondong pergi ke daerah yang disebut wadi Ahqaf yang mana disana terdapat makam Nabi Hud as, dan disana juga terdapat sungai dan kami biasa mandi disana, konon airnya berkhasiat. Ajibnya, Tareem ini adalah daerah padang pasir, yang sekilas nampak gersang akan tetapi air disana tidak pernah kering dan bahkan melimpah ruah.
 Pada bulan ramadhan nuansa rohani akan terasa kental sekali, mereka akan sangat pelit dengan waktu, apalagi hanya untuk tidur, dalam shalat taraweh saja mereka bisa menghatamkan alqur’an dua kali dalam sebulan, di indonesia kita melaksanakan sholat taraweh paling lama setengah jam, akan tetapi disini kita bisa menyelesaikannya minimal dua jam,. dan subhanallah masjid-masjid akan selalu ramai dan jama’ahnyapun membludak, dan di luar sholat mereka akan berlomba-lomba menghatamkan al qur’an, sehingga yang hanya menghatamkan sekali sangat sedikit, untuk menyambut bulan ramadhan biasanya kami sudah ada relawan pembuat kopi untuk mengusir kantuk.
Penduduk Tareem akan cepat akrab dengan orang indonesia, mereka menyebut semua orang indonesia dengan jawiyyun yang berarti orang jawa, bahkan beberapa bahasa yang mereka pakai adalah bahasa indonesia seperti bedak, mereka menyebutnya budda’, dan menurut beberapa literature yang aku baca penyebar Islam di Indonesia berasal dari tareem sebutlah misalnya wali songo kecuali sunan kali jaga, jika ditelusuri nasab mereka akan bersambung kepada ‘Ammu al Faqiih paman dari al Faqiih al Muqaddam.
Adapun hal unik di kota ini adalah pasar, pasar hanya akan diisi oleh pria semua atau perempuan semua, jika kita memasuki pasar khusus wanita maka kita tidak akan melihat seorang lelakipun disana, begitu juga sebaliknya, untuk kuliner kita juga bisa mendapatkan beberapa masakan indonesia seperti bakso ,tekwan dll.
Yang terkenal dari tareem ini adalah madu, kualitas madu tareem berbeda dari madu-madu yang lain, di tempat lain seperti di mesir  harga madu hadramaut relative lebih mahal daripada madu-madu yang lain, karena kualitas dan khasiat yang terkandung di dalamnya, biasanya jama’ah haji akan memborong madu ini dari pelajar yaman.
Tareem adalah tempat wisata rohani, disana seakan kita hidup di zaman Nabi saw, tidak sedikit orang yang pernah kesana akan rindu untuk kembali kesana. Hampir tiga tahun aku disana menimba ilmu dan akhlak, pada tahun 2003 setelah Allah mentakdirkan aku dan beberapa teman menunaikan haji, kami pulang ke indonesia.



                                                                                      
                                                                                           



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Saran dan kritik membangun anda penulis harapkan